Sukses Dunia dan Akhirat

Sabtu, 29 Mei 2010, alhamdulillah saya bisa hadir menjadi pembicara di "Seminar Syariah Ekonomi Islam" di Restoran Sami Kuring, Cikarang, yang diselenggarakan oleh Forum Komunitas Muslim Karyawan EJIP. Rencana semula, peserta dibatasi maksimum 70 peserta, tetapi kenyataannya membludak hingga 98 orang peserta (di luar panitia). Itu pun, katanya, banyak yang ditolak saat mendaftar karena keterbatasan ruangan.

Seperti biasa, saya sharing tentang konsep bisnis berorientasi akhirat, dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha. Yaitu, bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek, seperti punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dan seterusnya. Ini cita-cita yang terlalu pendek. Kita naikkan cita-cita kita ke akhirat.

Jika selama ini, kita diajarkan sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat. Kenapa tidak?

Toh dengan bercita-cita akhirat, maka Allah Ta'ala akan membantu memudahkan urusan kita, akhirat dapat dan dunia pasti dapat. Sedangkan kalau cita-cita hanya dunia, maka khawatirnya kita hanya mendapat dunia, dan di akhirat kita menjadi orang yang rugi besar.

Allah Ta'ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)

لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى  

“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16--17)

Banyak yang bertanya kepada saya, "Bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat?"

Jawabannya banyak sekali: bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya....

Ada kisah menarik di zaman tabiut tabi'in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadits sekaligus seorang pedagang yang berhasil. Beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, "Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar."

Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits." (Kisah itu disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'alam an-Nubala', pada biografi Abdullah bin al-Mubarak)

Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Ta'ala membuktikan janjinya. Beliau rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya, namun tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Beliau mengerti hakikat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.

Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya), "Wajib atas setiap muslim untuk bersedekah." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana bila ia tidak mampu?" Beliau menjawab, "Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah." (Muttafaqun 'alaih)

Lihatlah, betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah, karena sedekah itu wajib. Sehingga, setelah para sahabat mendengar hadits ini, mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekadar menjadi kuli angkat barang di punggungnya, hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.

Banyak dalil yang menerangkan janji-janji Allah Ta'ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).'" (Hr. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
 
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa." (Hr. Ibnu Majah; sanadnya hasan)
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja." (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Nah, masihkah kita ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala di atas? Apakah itu cuma dongeng di siang bolong? Siapakah yang paling mampu menepati janjinya? Sungguh sayang, banyak dari kita yang masih ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala, dan ikut yakin dengan pameo ini, "Zaman ini zaman edan, kalau tidak ikut arus, bagaimana kita bisa dapat rezeki?", atau "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Maka, jadilah suap-menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa berdosa, berdusta saat jual-beli menjadi hal yang wajar, dan seterusnya....

Bagaimana mungkin karunia Allah Ta'ala, berupa rezeki, dapat diraih dengan maksiat? Mungkin rezeki itu akan didapat, tetapi rezeki itu tidak akan memiliki berkah. Justru, rezeki tersebut akan membawa petaka, istri dibawa lari orang, anak berzina, kita sendiri terkena penyakit strok dan merana seorang diri di rumah sakit jiwa. Akhir yang buruk, yang tidak satu pun dari kita menginginkannya.

Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini,
"Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (Hr. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

"Sesungguhnya, Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencarianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (Hr. Abu Dzar dan al-Hakim)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214)

Hendaklah kita perhatikan hadits-hadits di atas. Kita diperintahkan untuk berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja, memperbaiki mata pencarian, meninggalkan yang haram, dan kita diperintahkan untuk bertakwa. Rezeki yang ada di langit (dari Allah) bukan dicari dengan cara maksiat kepada-Nya. Namun, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh bekerja, memperbaiki cara mencari rezeki, dan bertakwa.

Ada satu pengalaman pribadi yang menarik, sebagai pembuktian hadits-hadits di atas, yaitu bahwa seseorang tidak akan mati hingga seluruh rezekinya diterima. Kejadiannya terjadi pada ayah saya, yaitu setelah operasi jantung beliau mengalami komplikasi, dan sempat dirawat di ruang ICU selama 30 hari.

Beliau sempat berada dalam kondisi koma selama 2 minggu, setelah itu sadar dan meminta es krim. Dokter mengizinkan saya untuk memberikan es krim tersebut. Setelah habis dimakannya, beliau koma lagi selama dua hari, dan akhirnya meninggal dunia.

Kalau diilustrasikan secara sederhana dari kejadian ini, seolah-olah para malaikat menginventaris kembali rezeki yang harus diterima ayah saya, ternyata ada satu yang tertinggal, yaitu es krim. Maka, ayah saya dibangunkan, diberi es krim, kemudian nyawanya dicabut setelah seluruh rezekinya diterima. Benar sekali, seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya dia terima dengan sempurna.

Kejadian ini membuat saya bertambah yakin dengan firman Allah Ta'ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.

Masih ada lagi yang bertanya, "Untuk apa kita berusaha kalau rezeki sudah ditentukan?" Jangankan kita, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya hal yang sama.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu, kami bersandar saja (tidak beramal, pent), wahai Rasulullah?”

Maka, beliau pun menjawab, “Jangan demikian. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian, beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa, serta membenarkan al-husna (surga), maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. al-Lail: 5-7). (Hr. Bukhari dan Muslim)

Inilah nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, untuk tidak bertopang dagu, serta supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Kita pasti akan dimudahkan menuju takdir kita, selama kita mengikuti firman Allah Ta'ala dalam surat al-Lail ayat 5 hingga 7 tersebut.

Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. An-Nahl: 97)

Lihatlah, bahwa jika kita ingin hidup bahagia dengan mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan bahwa yang dimaksud adalah semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan lain-lain), maka caranya adalah dengan beramal shalih, dalam keadaan beriman.

Bagaimana kita bisa beriman dan beramal shalih? Mari kita pelajari al-Quran dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Insya Allah kita akan selamat.

Wallahu a'alam.

***

Penulis: Fadil Fuad Basymeleh
Penulis adalah owner Zahir Accounting dan ketua Yayasan Bina Pengusaha Muslim

Artikel Terkait
Fatwa_seputar_Undian_Berhadiah_6.jpg

Hukum Penarikan Undian

pengadilan_uang.jpg

Hukum Kerja di Pengadilan

motivasi_bisnis.jpg

Motivasi: Pertanyaan yang Membuat Anda Lebih Fokus

beer.jpg

Hukum Kerja di Pabrik Bir

24 Komentar

  1. Sugeng Ferianto, SE, Amd.kom

    30.07.2010

    Syukron, a very good reminder. Smoga saya mampu menjadikan usaha keluarga menjadi usaha yg bertujuan akhirat.
  2. Abu dihya Elizzi

    03.08.2010

    jazakumullah khairan. kemuliaan d&a tidak digapai dengan berpangku tangan,kedhaliman dan ketidaktahuan namun dengan sebaliknya. waffaqonallah wa iyyakum.
  3. agusisdiyanto

    02.09.2010

    BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI , DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA. (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani: hadits shahih)
  4. rudy setiawan

    05.09.2010

    alhamdulillah... bagus banget, menjadi penguat utk istiqomah dlm mencari rizqi yg halal
  5. Ahmad Fajar

    17.09.2010

    Bener sekali nasehat orang tua sambil memberikan sebuah permisalan ... Barangsiapa menanam padi maka dia akan memanen padi dan rumput. Namun barangsiapa menanam rumput saja maka dia tidak akan memanen padi. Begitu kira-kira maksud permisalan orang yg mengharapkan kehidupan akhirat dan dunia sekaligus yang dibandingkan dengan orang yang hanya mengharapkan kehidupan dunia.
  6. ummu salsabila

    17.09.2010

    subhanalloh...mudah2an saya dan suami bisa istiqmah dlm menjalankan usaha keluarga yg bertujuan akherat...
  7. mahmuzi.ab

    28.10.2010

    mudahan kami sekeluarga termasuk orang yang selalu bersyukur atas karunia dan rezeki yang selalu diberikan kepada kami amin............. Allah tidak akan ingkar dengan janjinya,Allah maha mesar,akan melihat hambanya yg taat kepadanya. Hidup didunia hanyar sementara,dunia hanya persigahan sementara,mudahan kita termasuk orang yang beruntung dlm mengunakan wkt didunia ini untuk beramal dan selalu tawadu atas semua yang diberikannya kepada kita amin....
  8. Tsani Fauzi Hamdani

    05.11.2010

    sebuah review, Dalam sebuah acara di radio MQ FM ada sebuah keriti: "kenapa sekarang ini jumlah pengangguran terbesar adalah dari kalangan laki-laki? analisanya ternyata karena rata-rata para pengusaha lebih banyak memberikan lowongan (kesempatan bekerja) kepada kalangan perempuan (mungkin dengan alasan emansipasi, padahal bukanlah bekerja tugas utama wanita, apalagi bagi yang sudah menikah), sehingga apa yang terjadi pada bangsa ini? Kaum Adam, yang memang sudah tugasnya memberikan nafkah kelu
  9. Muhammad Novanda

    19.01.2011

    assalamualaikum warohmatullah wabakatuhu. masya allah artikel sangat bermanfaat, cuma ana hanya ingin klarifikasi dan pernah baca, bahwa kita ga boleh mencela zaman dan waktu dengan mengatakan ; ini zaman edan, gila, dll. maka bagaimana perkara ini sebenarnya? jazakallhu khoir
  10. Fauzan

    27.01.2011

    bagus bangat artikelnya, makasih banyak buat yang bikin. moga yang bikin juga selalu dimudahkan dan selalu diberi rahmat oleh Allah. Amin.
  11. diah

    02.02.2011

    bagaimana hari hari saat akan trjadinya hari akhir
  12. engki jas putra

    06.02.2011

    terima kasih atas share nya...smga dpt mnjd pedoman bwt saya dlm melangkah dan berusaha di hari depan...amiin
  13. febrian wahyu hersanto

    07.02.2011

    izin share ustad, subhanallah, sgt motivatif
  14. fikky hidayat

    10.02.2011

    syukron jzk.. ana izin copy materinya.
  15. yogisucipto

    13.02.2011

    sungguh penerangan,pengarahan dan motivasi buat saya,,,,trimakasih atas share nya pa ustzad,,,izin copy tulisanya,,,
  16. bee

    13.02.2011

    Subhanallah semoga bermanfaat ustadh, Ane ingin mengamalkannya. Amin...!!
  17. Asrini Sigar (Nining)

    14.02.2011

    alhamdulillah dengan adanya artikel seperti ini, mampu membawa kita ke alam perbaikan diri di dalam mencapai cita-cita dunia & akhirat.
  18. innews

    18.02.2011

    bagus Mz..kayaknya memang kita hrs mulai berbenah niyh.. ijin share ya..
  19. surya

    19.02.2011

    Alhamdulillah yang telah menjadikan tulisan ini nasehat dan peringatan bagi umat muslim yang harus menempuh jalan sukar lagi sulit untuk dapat meniti jalanNYA. Toh ... segala kurniaNYA adalah titipan yang harus dijaga, diberdayakan untuk mengabdi kepadaNYA. Kesimpulan dari tulisan ini agar hamba bercita2 untuk menjadi manusia yang bertaqwa.
  20. anonymous

    21.02.2011

    mohon doanya, smg kita bs mengamalkannya di kehidupan sehari2 :)
  21. Muhammad Ali Wardana

    27.02.2011

    Assalamu'alaikum Wr.Wb Alhamdulillah. Saya minta ijin copy paste artikel ini untuk dimuat di blog saya : http://zikriramadhan.blogspot.com/ Terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr.Wb
  22. kye

    25.02.2011

    terimakasih atas semua ilmu yang anda berikan , karena setelah memebaca blog ini saya termotivasi untuk meningkatkan keimanan dan keislaman saya..terimakasihh
  23. muliadi

    01.03.2011

    assalamu alaikum,syukur alhamdulillah berkat artikel kakak saya bisa kembali fokus menjalankan dunia untuk menggapai akhirat(Insya Allah) semoga kita semua selalu mendapat hidayah Allah Subahana Wataala.Amin
  24. Abu Muhammad bin Kaswan

    22.12.2011

    Jazaakallaahu khair Ustadz, nasehat yg sangat bagus dan inspiratif..

Kirim Komentar