Bagaimanakah Model Bisnis Yang Bagus?

Sebuah model bisnis yang bagus harus bisa memberikan benefit bagi semua pemegang sahamnya dengan lebih efektif daripada yang bisa dilakukan kompetitor atau pendatang baru. Berikut adalah enam cara yang biasa digunakan untuk memberikan benefit yang lebih besar bagi stakeholder :

1. Bantu konsumen Anda agar bisa mendapatkan nilai tambah bagi dirinya

2. Merangsang pertumbuhan industri dengan memberikan lebih banyak benefit dan mengurangi penarikan di level harga yang ada.

3. Memberikan harga baru untuk penawaran Anda sehingga mendorong lebih banyak pengguna.

4. Mengurangi sumber yang diperlukan dan gunakan penawaran ini.

5. Menemukan kembali sumber-seumber dari model bisnis Anda agar memberikan lebih banyak benefit dan mengurangi penarikan dimasa datang, lebih cepat daripada yang dilakukan kompetitor.

6. Membagi kelebihan sumber secara adil dengan stakeholder yang telah mendukung dan memberikan model kesuksesan bisnis dengan cara yang bisa ditebak , sehingga tidak ada organisasi lain yang bisa menawarkan ini kepada stakeholdernya dengan benefit sebanyak ini dimasa sekarang maupun mendatang.

Dengan definisi ini, banyak bisnis yang memiliki model bisnis yang bagus. Sebagai contoh, Anda bisa melihat Taman Disney, Southwest Airlines, produk perawatan Johnson & Johnson, jasa layanan outsource komputer IBM.

Supaya bisa menilai model bisnis yang baik, mari kita lihat beberapa karakter model bisnis yang buruk .

Elemen terburuk dari model bisnis adalah sumber perusahaan yang hilang dengan cepat, membahayakan kinerja masa kini dan mendatang. Sumber penting tersebut mencakup waktu dan perhatian karyawan kunci, waktu mencapai pasar dengan penawaran baru, niat baik stakeholde, serta dana tunai .

Sebuah model bisnis yang buruk biasanya membebani stakeholder dengan pengeluaran, yang menyebabkan perusahaan menurun. Para CEO dari perusahaan telekomunikasi yang bangkrut adalah termasuk kelompok perusahaan yang gagal melayani stakeholders.

Contohnya Kmart . Perusahaan dengan model bisnis ritel yang mengarahkan tokonya untuk bersaing dengan Wal-Mart, tapi gagal karena tingginya biaya yang dikeluarkan untuk memperbesar toko dan meningkatkan daya tariknya.

Sedikit dari investasi ini yang membantu karyawan, yang memiliki moral rendah dan menurun. Supplier melihat salesnya yang menurun dan hanya menunggu pembayaran saja . Shareholder melihat holding yang tidak menghasilkan apa-apa. Pada akhirnya tahun 2001, Kmart bangkrut. Setelah investasi dan upaya yang besar dikeluarkan, hanya sedikit yang bisa ditunjukkan pada stake holder.

Model bisnis yang buruk tidak bisa bertahan lama .Sebuah perusahaan dengan model buruk menemukan dirinya membuang-buang waktu dan sumber dengan tidak terarah yang memperburuk keadaan.

Oleh: Donald Mitchell
Sumber: http://www.leadershiparticles.net
Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusaha Muslim.com