Bukan Sekedar Menahan Diri

Renungan Ramadhan Hari ke-13

Bukan Sekedar Menahan Diri

Definisi puasa menurut syariat Islam adalah “Ibadah yang ditujukan pada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari”. Adapun yang membatalkan puasa menurut syariat Islam adalah, makan, minum, muntah dengan sengaja dan melakukan hubungan intim suami istri.

Bila ada bentuk menahan diri selain dari itu, maka itu bukan dinamakan ibadah puasa dalam ajaran Islam.

Contohnya: bila ada yang berpuasa untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, namun dalam bentuk menahan diri dari makan daging; atau hanya makan nasi putih saja; atau menahan diri untuk tidak berbicara dengan siapapun; atau menahan diri dari tidur; atau menahan diri tidak mau duduk; menahan diri tidak mau berteduh, dan bentuk menahan diri lain-lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa pernah ketika Rasulullah sedang berkhutbah, ada seorang sahabat sedang berdiri di terik matahari. Rasul bertanya, apa yang dilakukan orang itu? Para sahabat menjawab, dia bernama Abu Israil, dia bernazar untuk tidak duduk, tidak berteduh, tidak mau berbicara, dan berpuasa. Maka Rasul pun bersabda, “Perintahkan dia untuk duduk, berteduh, berbicara, dan silahkan lanjutkan puasanya” (HR. Bukhari, no: 6704).

Ibnu Hajar Al Atsqalani ketika mensyarah hadits ini mengatakan, “Hadits ini menyatakan bahwa menahan diri dari perbuatan mubah bukan bentuk perbuatan taat pada Allah Ta’ala. (fathul Bari: 11/590)

Tujuan berpuasa adalah untuk mendapatkan Radho Allah Ta’ala. Sedangkan cara mendapatkan ridho Allah Ta’ala adalah dengan cara mengikuti petunjuk yang sudah digariskan oleh Rasulullah. Jadi, bukan sembarang ibadah. Karena, ibadah itu pun ada aturannya.

Khusus untuk aturan puasa, semua sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Kita hanya tinggal menjalankannya saja. Tidak perlu membuat model ibadah baru dalam puasa itu. Kerjakan saja model biasa seperti yang dilakukan umumnya kaum muslimin. Tidak perlu tampil beda, kalau memang ajaran agamanya sama, untuk apa harus berbeda? Ajaran Rasulullah sasarannya kepada segenap umat manusia. Tidak ada tata-cara ibadah yang disembunyikan oleh Rasul dari sebagian manusia.

Beda halnya bila menahan diri dari beberapa jenis makanan dengan tujuan kesehatan atau diet, tidaklah mengapa karena tujuannya bukan untuk ibadah. Sedangkan ibadah, harus berdasarkan dalil yang jelas dari Rasulullah, bukan dari hasil karangan manusia atau sesuai selera masing-masing orang.

Kaum Muslimin…..

Ternyata, ibadah tidak hanya cukup dengan niat ikhlas atau untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Namun, ibadah harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan syariat. Baik dalam waktu pelaksanaan maupun bentuk dan tata cara pelaksanaannya.

Hanya dengan ilmu syar’I kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah; dengan ilmu agama kita bisa mengerti ibadah yang sesuai dengan sunnah; dengan pandangan ilmu dapat menepis penilaian dari perasaan atau hawa nafsu.

Marilah diri kita merasa cukup dengan ibadah yang sudah ada dalil shohih yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kita laksanakan ibadah itu dengan ikhlas karena Allah Ta’ala semata.

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial