Nilai-nilai Intangible (3) – Lanjutan

Sekarang kita, Insya Allah akan melanjutkan tulisan tentang Nilai-nilai Intangible, kali ini dengan memperhatikan arahan dari owner milis pengusaha-muslim.com, khususnya untuk calon-calon pengusaha muslim dan muslimah yang diharapkan bisa menjadi pengusaha yang Smart.

Memang, ada dilema tersendiri yang bakal ditemui dan mau tidak mau musti dihadapi oleh calon pengusaha pemula, bisa jadi keinginannya untuk menjadi pengusaha dibatalkan karena takut risiko, takut dengan kemungkinan-kemungkinan buruk, namun bila kita maju terus untuk jadi pengusaha dengan modal yang pas-pasan, juga ngga ada jaminan kita bakal berhasil. Memang sih, … setiap orang punya hak buat takut dengan yang namanya risiko atau sebaliknya.

Maksud ana gagalnya, kalau kita umpamakan ingin menembak suatu sasaran tembak… “Tembakan kita meleset”, ….. model yang kaya gini mah … biasa dalam bisnis. Akan tetapi, kalau kita gagal dalam arti “Kehabisan peluru”, atau “kehilangan sumber penghasilan” , lebih parah lagi “menanggung hutang“, atau karena waktu kita memulai berbisnis harus “meninggalkan pekerjaan” yang menjadi sumber utama penghasilan kita, udah pasti efeknya berbeda!

Nah, bagaimana kita mensiasatinya? atau cara kita berkelit dari dilema yang sulit seperti ini? (kaya lagi silat ,,, pake berkelit segala), tapi kalau harus dijawab dengan tulisan … wah repot juga neeh, … bisa-bisa engga selesai-selesai nulisnya. Soalnya, ada sejumlah atau segudang jawaban, ditambah lagi… dengan sekian alternatif, dan sekian opsi (musti ada diskusi interaktif … dengan para pakar bisnis), namun tunggu dulu, barangkali ada yang ingat dengan istilah Street Smart? … iya betul … terjemahan sederhananya kurang lebih … “cerdas di lapangan”, atau, .. kalau kita lagi ngobrol santai membahas suatu persoalan dengan group kita, …. kadang terlontar kata-kata, …. “Ach tenang aja, … dia khan “jam terbangnya” udah tinggi, jadi persoalan kaya gitu sih Insya Allah bisa diatasi.”

Kalau ada rekan-rekan milis yang pernah mengikuti dialog interaktifnya Oom Bob (Bob Sadino) kira-kira tahun 2003 di Majalah Manajemen, barangkali masih ingat (mudah-mudahan memori disk ana … ngga lagi error … he…he.he). Gambaran aplikatifnya :

“Cukup satu langkah awal. Ada krikil kita singkirkan,. .. terus melangkah … Bertemu duri kita sibakkan, maju terus … Terhadang lubang kita lompati … maju terus …. Bertemu api kita mundur sebentar (tunggu apinya padam … barangkali maksudnya Oom Bob ..ya), maju terus …., Berjalan terus dan mengatasi masalah … “. Jadi dengan kata lain kecerdasan di lapangan (street smart) termasuk modal Intangible yang oke punya … (luar biasa perannya).

Balik ke si George (klik lihat episode 1), hasil survey yang menanyakan; Sejauh mana relevansi antara latar belakang pendidikan dengan profesi yang kita geluti sekarang (bisnis)?, kurang lebih hasil survey mencatat : hubungannya sangat dekat, ada juga yang menjawab relevansi itu tetap ada, ….. ada juga yang menjawab tidak ada sama sekali, …. tapi yang terbanyak jawabannya ; “street smart is more important in business than an advanced degree”.

Jadi yang diperlukan sekarang sudah mulai kelihatan, yakni kecermatan, keberanian (harus berani berubah), dan kesiapan kita.

Kita musti cermat, ,supaya terhindar dari yang namanya “Kegagalan dalam bentuk kehabisan peluru”, atau “menanggung hutang”. Namun… Upayakan!!!, risiko itu (bila harus terjadi), hanya berupa kegagalan dalam bentuk “meleset tembakan kita”, atau belum banyak untung … oke!

Maju terus kawan, … kita perlu keberanian untuk melawan ketakutan kita yang membisikkan teror “bagaimana nanti kalau gagal?”, … dan lain-lain. Maksud ana, selama ketakutan semacam itu belum bisa kita atasi, sebaiknya … sembunyikan dulu keinginan kita untuk menjadi pebisnis (pengusaha). Dus.., jadi (sama ajang dong artinya dus … sama .. jadi), yang kita butuhkan sekarang adalah kesiapan mental untuk menumbuhkan bangkitnya kecerdasan yang namanya “Street Smart”.

Pebisnis harus kenyal seperti bola karet, biar jatuh berkali-kali …., harus tetap siap bangkit, …. mengapa?
“Kita tidak pernah tahu, pada kali keberapa, kita sukses”, gambarannya, mungkin kita tersandung tiga kali, lalu berhenti. Bisa jadi pada kesempatan yang ke empatnya kita sukses, … jadi rugi dong kalau baru tiga kali kesandung kita berhenti … iya khan?, tapi ada juga yang sampai tua belum sukses-sukses …. hm..hm.. hm, contohnya ana aja deh ….he..he.. he, kalau sukses itu barometernya musti punya pesawat! … soalnya ana baru punya pesawat telepon, itupun udah ana sangat syukuri, soalnya banyak yang udah tua juga belum punya pesawat telp. …. yang penting kita harus pandai bersyukur, dan jangan lupa memohon pertolongan Allah SWT.

Beberapa pakar kepribadian, melontarkan gagasan soal perbedaan karakter manusia unggul dan tukang panggul, professional dan pekerja. Katanya, manusia unggul dan profesional, adalah mereka yang selalu berfikir bagaimana terus menerus meningkatkan kualitas, sehingga performance selalu meningkat. Mereka menjadikan akal pikiran sebagai imam atas perut. Makanya mereka selalu bekerja dengan cerdas di lapangan kehidupan manapun juga, (termasuk dalam dunia bisnis). Sebaliknya, tukang panggul yang sekedar pekerja, … pencari nafkah, dan jauh dari sikap professional, selalu menjadikan perut sebagai imam atas otaknya. Mereka selalu dikelilingi masalah, dan tak pernah berinisiatif mencari solusi atas masalah. Dan, enggan menggunakan kemampuan akalnya,… walaupun sebenarnya mereka-mereka bisa jadi mempunyai potensi kecerdasan.

Bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia sebagai sesempurna mahluk. Punya otak dan punya hati, tak sekedar perut. Dan yang terpenting, sebagai insan beriman, kita punya Tuhan, yang selalu memelihara dan bersahabat dengan manusia yang optimistic, dan kita harus selalu pandai mencari solusi atas masalah yang timbul, dan mengembangkan gagasan segar dan cerdas, agar cepat keluar dari masalah yang dihadapi. Disini, … kualitas pebisnis tangguh akan nampak saat ia mengahadapi tantangan.

Selamat berjuang kawan, semoga Allah Ta”ala memudahkan jalan kita menuju kebaikan. Amin

Wassalamualaikum Wr. Wb,

Umar – Tukang Nasi