Orang Inilah yang Istighfarnya Butuh kepada Istighfar

Istighfar

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Pertama: Istighfar itu Harus Selalu…

وَقَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ تَقِيُّ الدِّينِ أَحْمَد ابْنُ تَيْمِيَّة - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - :
فَالْعَبْدُ دَائِمًا بَيْنَ نِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ يَحْتَاجُ فِيهَا إلَى شُكْرٍ وَذَنْبٍ مِنْهُ يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى الِاسْتِغْفَارِ وَكُلٌّ مِنْ هَذَيْنِ مِنْ الْأُمُورِ اللَّازِمَةِ لِلْعَبْدِ دَائِمًا فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَقَلَّبُ فِي نِعَمِ اللَّهِ وَآلَائِهِ وَلَا يَزَالُ مُحْتَاجًا إلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ . وَلِهَذَا كَانَ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ .

Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah berkata, "Seorang hamba selalu di antara sebuah nikmat dari Allah yang membutuhkan syukur di dalamnya, dan sebuah dosa yang membutuhkan istighfar di dalamnya, setiap dari dua perkara ini adalah termasuk perkara-perkara yang selalu menghampiri seorang hamba, dia masih bergumul di dalam nikmat dan anugerah Allah dan masih selalu membutuhkan kepada taubat dan Istighfar. Oleh karena inilah pemimpin keturunan Adam dan orang-orang bertakwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beristighfar di setiap saat." (Majmu' Fatawa, 10:88).

Kedua: Tapi jangan Istighfar yang butuh kepada Istighfar

قال القرطبي رحمه الله: قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.

Al Qurtuby rahimahullah berkata, "Ulama kita berkata, ‘Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan (dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang mengatakan dengan lisan "astaghfirullah" sedangkan hatinya bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada dosa besar’.” Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: "Istighfar kita membutuhkan kepada Istighfar". (Lihat Tafsir Al Qurthuby).

وقال النووي : وعن الفضيل بن عياض رضي الله تعالى عنه : استغفار بلا إقلاع توبة الكذابين.

An Nawawi rahimahullah berkata, “Al Fudahil bin Iyadh radhiyallahu 'anhu berkata, ‘Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para tukang dusta’.” (Lihat kitab Al Adzkar, Karya An Nawawi).

قال المناوي: تنبيه سئل أحدهم أيهما أفضل: التسبيح والتهليل والتكبير أو الاستغفار؟ فقال: يا هذا الثوب الوسخ أحوج إلى الصابون منه إلى البخور، ولا بد من قرن التوبة بالاستغفار لأنه إذا استغفر بلسانه وهو مصر عليه فاستغفاره ذنب يحتاج للاستغفار ويسمى توبة الكذابين . انتهى.

Al Munawi rahimahullah berkata, "Perhatikan! seorang ulama ditanya, ‘Manakah yang lebih utama; bertasbih, bertahlil, bertakbir atau istighfar?’ Dia menjawab, ‘Wahai kamu, pakaian yang kotor lebih butuh kepada sabun daripada minyak wangi, dan taubat harus dibarengi dengan istighfar, karena jika dia beristighfar dengan lisannya padahal dia terus melakukan (dosa)nya, maka istighfarnya adalah dosa yang membutuhkan kepada istighfar dan dinamai dengan taubatnya para tukang dusta’.” (Lihat Fath Al Qadir, karya Al Munawi).

قال ابن رجب: فأفضل الاستغفار ما اقترن به تركُ الإصرار ، وهو حينئذ توبةٌ نصوح ، وإنْ قال بلسانه : أستغفر الله وهو غيرُ مقلع بقلبه ، فهو داعٍ لله بالمغفرة ، كما يقول : اللهمَّ اغفر لي ، وهو حسن وقد يُرجى له الإجابة ، وأما من قال : توبةُ الكذابين ، فمرادُه أنَّه ليس بتوبة ، كما يعتقده بعضُ الناس ، وهذا حقٌّ ، فإنَّ التَّوبةَ لا تكون مَعَ الإصرار .

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Jadi, istighfar paling utama adalah yang dibarengi dengan meninggal sikap meneruskan (melakukan dosa), dan dialah yang disebut taubat nasuh, dan jika mengucapkan dengan lisannya: Astaghfirullah, dan dia tidak melepaskan dengan hatinya, maka dia (seperti) orang yang berdoa kepada Allah meminta ampunan, sebagaimana dia mengucapkan: "Ya Allah ampunilah aku", ini baik dan diharapkan baginya pengabulan (atas doanya). Adapun yang berkata: "Taubatnya para tukang dusta, maka maksudnya adalah bukan taubat sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, dan ini adalah sebuah kebenaran, karena sesungguhnya taubat tidak akan terjadi dengan meneruskan (maksiat).” (Lihat Jami' Al Ulum wa Al Hikam, karya Ibnu Rajab).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Jumat, 4 Jumadal Ula 1432H
Dammam KSA

Artikel www.PenguhasaMuslim.com

Tag: Ibadah

Kaos Tanpa Riba Pengusaha Muslim

Tulisan Terkait Lainnya

minta_gaji_karyawan.jpg

Ketika Majikan Tidak Mengupah Karyawan

akad_mudharah.jpg

Bolehkah Modal Mudharabah Berupa Barang?

pasar_tradisional.jpg

Cara mensyukuri uang 100 ribu (Mei 2013)

bahaya_riba_6.jpg

Riba dan Bahayanya

2 Komentar

  1. Nila789

    26.07.2012

    perbanyak istigfar membuat aku merasa nyaman dan lebih tenang dan dewasa ketika menghadapi masalah ato ujian..
  2. brilly el-rasheed

    16.07.2012

    afwan ustadz, setahu kami yang betul Faidh Al-Qadir bukan Fath Al-Qadir.

Berikan Komentar









Tentang Pengusaha Muslim

PengusahaMuslim.com didirikan sejak tahun 2005, namun telah dilakukan pembaharuan dan lebih aktif sejak April 2008 bersamaan dengan pembentukan milis pengusaha-muslim di yahoogroups.com

Website PengusahaMuslim.com ini dibuat sebagai sarana informasi dan pembelajaran bagi pengusaha dan calon pengusaha muslim Indonesia.

© 2005-2011 PengusahaMuslim.com
Penyebaran konten diizikan dengan menyertakan sumber dan tidak untuk tujuan komersial.
All Rights Reserved.

FB Pengusahamuslim

Berlangganan Artikel

Silakan daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel. Artikel terbaru akan langsung kami kirimkan via email Anda.