Menciptakan Perubahan Budaya Korporat yang Positif – Pentingnya Peran Manajer


Menciptakan Perubahan Budaya Korporat yang Positif – Pentingnya Peran Manajer

Apa arti kata “budaya” bagi Anda?

Jika seseorang meminta Anda menggambarkan budaya tim atau organisasi Anda, bagaimana Anda menjawabnya?

Tidak yakin dengan jawaban Anda? Mungkin Anda tidak terlalu memikirkannya- dan Anda tidak sendirian. Namun setiap harinya, di ratusan organisasi, Anda akan mendengar orang membicarakan:

  1. “Oh ya.... mereka (para manajer) membicarakan tentang “pintu terbuka”, dan ingin mendengarkan, tapi hanya berbicara saja. Mereka hanya mendengarkan apa yang ingin mereka dengar.
  2. Survey staff? Oh ya – kita melakukannya setiap tahun. Apa yang saya lakukan? Mencentang kotak latihan? Membuatnya nampak seoleh mereka (para manajer) mendengarkan; tapi tidak peduli dengan feedback yang kita berikan, tidak ada perubahan. Apa intinya?
  3. Mereka hanya menumpuk satu perubahan dengan perubahan yang lain; tidak seorangpun yang menanyakan pada kita apa yang kita pikirkan.
  4. Saya tetap menundukkan kepala; menjauh dari masalah dan mengumpulkan cek pembayaran di akhir bulan. Banyak dari kita yang melakukannya.
  5. Tidak seorangpun yang berterima kasih pada Anda.

Beberapa staff mengabaikannya, tergantung pada siapa Anda dan siapa yang Anda kenal disini, tidak seberapa baik Anda dan seberapa keras kerja Anda. Nyatanya, semakin banyak yang Anda lakukan disini, semakin banyak keuntungan yang mereka dapatkan.

  1. Disini manajer bertindak seperti pemimpin otoriter: setiap orang mencari jalan keluar.
  2. Saya tidak suka disini: banyak gosip, intrik, omelan.

Saya belum memutuskan apapun: Orang yang nyata, pada perusahaan yang riil, telah menjabarkan situasi sesungguhnya di tempat kerja mereka. Ini adalah bagaimana mereka melihatnya – dan mereka juga tidak melihatnya secara positif!

Dan apa yang mereka kerjakan, meski mereka tidak menjulukinya demikian, adalah budaya korporat dimana mereka bekerja. Dan jika demikian yang mereka jabarkan, sebatas seberapa baik Anda mengetahui kinerja dalam tim atau organisasi? Tebak, Anda tidak harus menjadi Einstein untuk sekedar tahu ini tidak selalu baik.

Definisi budaya yang saya temukan di Wikipiedia :

“Budaya” – serangkaian perilaku, nilai-nilai, tujuan dan praktek yang merupakan karakteristik institusi, organisasi atau kelompok.

Pendapat saya sederhana: daripada membicarakan “budaya” tim saya, saya lebih suka menjulukinya: “cara kita melakukannya disini. Apapun Anda menjulukinya, mengarah ke hal yang sama: cara perilaku, yang dipahami setiap orang, disetujui, dan yang melekat. Ini tentang menetapkan batasan, dan harapan yang diterapkan pada semuanya, dan jika dicemooh, menghasilkan tindakan yang tegas dan perbaikan.

Di beberapa budaya, terlebih seperti yang dijabarkan diatas, budaya –budaya tersebut sudah dikembangkan, tidak dikembangkan dari waktu ke waktu. Tidak seorangpun yang ingin budaya penuh terisi dengan gosip dan terpisah-pisah misalnya, tapi karena tidak seorangpun yang menetapkan harapan terkait dengan perilaku standar, atau secara konsisten dan sistematis mendorong perilaku dan sikap tertentu, apapun yang muncul, biasanya muncul sebagai hasil dari “pemimpin” yang berpengaruh dalam tim atau kelompok.

Saya sudah melalui berbagai peristiwa dimana seorang individu memberikan pengaruh yang merugikan pada kelompok atau orang lain, dan hanya sedikit yang bisa dilakukan. Masalahnya, tentu saja, apakah ini akan berlangsung terus, kinerja yang tidak jelas. Perusahaan dengan kinerja yang tinggi benar-benar mengakui nilai dan perilaku; ada banyak waktu yang memang dikeluarkan dan menetapkan standar-standar yang akan datang; dan sekalipun ada banyak waktu dan energi yang digunakan untuk menemukan cara komunikasi diseluruh organisasi – yang besar. Anda menetapkan budaya korporat.

Tapi, menurut saya, semakin besar organisasi, semakin banyak peran dalam menyampaikan nilai tersebut ke satu orang: Manager.

Pikirkan ini sebagai sebuah kesatuan: ada serangkaian nilai, keyakinan, dan perilaku, tapi peran melihat nilai-nilai yang dikomunikasikan, disebarkan, dimonitor dan “diturunkan” ke dalam unit yang jauh lebih kecil; keluarga. Dan yang bertanggung jawab dalam unit? Orang tua.

Dalam organisasi yang besar ada lusinan “keluarga” dalam bentuk tim; dan menuju ke tim tersebut: Manager.

Riset yang cermat dan mengagumkan yang dilakukan oleh Gallup telah menunjukkan hal tersebut, alih-alih diberikan sumber, demografis, dan dukungan yang sama, dua otlet ritel bisa mencapai hasil yang benar-benar berbeda: satu outlet melebihi ekspektasi, dan yang lainnya gagal secara siginfikan.

Mengapa?

Ini akan diturunkan pada para manajer. Yang lebih penting, diturunkan pada “budaya” tim. “Cara kita melakukan ini” bagi tim dengan kinerja yang tinggi, berbeda dengan “cara kita melakukan disini” bagi tim dengan kinerja yang buruk – dan manajerlah yang menciptakan "cara kita melakukan ini".

Jadi perilaku, nilai, tujuan, dan praktek apa yang secara aktif ditunjukkan pada tim atau organisasi Anda? Menurut Anda, apa yang dipikirkan tim mengenai Anda saat Anda tidak ada? Menurut Anda, reputasi apa yang Anda miliki, atau apakah Anda membangun sebagai manajer tim atau organisasi, apakah reputasi tersebut membantu atau menghambat kinerja tim?

Masalahnya adalah, seringkali manajer mendapati dirinya mengelola dengan sedikit atau tanpa bahkan tidak ada pengalaman mengelola orang lain, dan juga tidak memikirkan budaya sebagai isu, atau jika mereka memilikinya, kurangnya kepercayaan diri atau pengetahuan yang akan membantu mereka menciptakan budaya yang mereka inginkan dalam tim.

Bisakah Anda mengubah budaya dimana gosip, kelompok, ketidakpercayaan dan apatis sebagai norma? Bisakah Anda membangun budaya dimana orang bersikap positif terhadap perubahan; memiliki sikap “bisa melalukan”, jarang bergosip, dan berbicara secara positif tentang manajemen dan peran mereka?

Kebanyakan demikian. Beberapa manajer unggul terkadang melakukan ini – terlepas dari tim yang mereka pimpin, atau organisasi dimana mereka bekerja.

Tapi manajer membutuhkan alat, dukungan dan ketrampilan, untuk mempelajari bagaimana membangun budaya kerja yang positif. Tidak semata-mata tampil dengan beberapa kata pilihan tentang “ kami jujur, terbuka, kerja keras” atau apapun.

Ini mengenai pemahaman bagaimana mengubah nilai-nilai yang diinginkan, keyakinan, dan perilaku kedalam perilaku sehari-hari. Ini tentang apa yang Anda kerjakan, secara teratur & konsisten untuk mewujudkan tujuan tersebut bagi setiap orang didalam tim Anda.

Jadi luangkan waktu untuk memikirkan sikap dan perilaku yang bagaimana yang Anda ingin ciptakan dalam tim, dan ketika Anda melakukannya, pikirkan apa yang perlu Anda KERJAKAN untuk mewujudkan sikap dan perilaku tersebut.

Sumber: http://www.leadershiparticles.net

Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com

Artikel: www.pengusahamuslim.com

comments