| Jangan Runtuhkan Rangkaian Pahalamu |
|
|
|
| Fatwa dan Nasehat Agama | Nasehat Al-Quran dan As-Sunnah |
| Ditulis oleh Ibnu Munzir on Selasa, 20 Oktober 2009 07:33 | Dibaca : 1592 kali |
|
Saudaraku! Ketika hari raya telah tiba, saya yakin saudara mengenakan baju baru, sehingga saudara tampil lebih cakap nan rupawan. Akan tetapi pernahkan saudara mengamati pakaian yang anda kenakan? Tahukah anda, bagaimana pakaian anda ini dibuat, dimulai dari kapas, kemudian dipintal dan proses lain selanjutnya, hingga akhirnya sampai ke tangan anda dan kemudian anda kenakan? Semuanya dilakukan dan diproses dengan tekhnologi canggih. Sehingga sekarang ini, anda tidak perlu pusing-pusing mengetahui proses pembuatannya. Akan tetapi tidakkah saudara pernah dibawa oleh lamunan saudara, kepada suatu pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan di saat nenek moyang saudara sedang memintal benang, lalu menenunnya, dan kemudian mewarnainya dan akhirnya dengan kedua tangannya, mereka menjahitnya menjadi pakaian lebaran untuk anak-anaknya. Semua proses dari tahap ke tahap selanjutnya dilakukan dengan peralatan yang serba sederhana dan dikerjakan dengan kedua tangan sendiri. Saudara bisa bayangkan, betapa besar rasa bahagia putra-putri mereka tatkala mendapatkan pakaian tersebut. Bagi mereka hari raya Iedul Fitri terasa begitu bahagia, senyuman lebar senantiasa menghiasi bibir mereka. Demikianlah kira-kira gambaran nenek moyang saudara tatkala mempersiapkan pakaian Iedul Fitri untuk anak-anaknya. Akan tetapi coba saudara sedikit menambahkan gambaran baru pada lamunan saudara. Tatkala salah saorang dari nenek saudara yang telah berjuang siang dan malam. Ia dengan sabar memintal kapas menjadi benang, lalu melanjutkan perjuangannya dengan merajutnya menjadi selembar kain sehingga siap untuk dijahit menjadi pakaian. Rasa gembira telah menghampiri raut wajah anak-anaknya, karena merasa tak lama lagi pakaian Ied mereka segera jadi. Di luar dugaan, sang nenek bukannya melanjutkan perjuangan dengan menjahit kain hasil tenunannya, ia malah kembali mengurai hasil tenunannya menjadi benang. Dan ia terus mengurai benang itu kembali menjadi onggokan kapas. Saudara bisa bayangkan, bagaimana perasaan dan sikap putra-putri sang nenek tersebut? Kebahagiaan yang telah menghampiri mereka sekejap sirna, dan tawa ria berubah menjadi jerit tangis duka. Saudaraku! Menurut hemat saudara, perbuatan nenek itu baik atau tercela? Dan andai saudara adalah salah seorang putra atau putri nenek tersebut, bagaimana perasaan saudara menyaksikan perbuatan ibunda tersebut? Ini adalah gambaran sederhana bagi keadaan yang semoga tidak sedang saudara alami. Setelah saudara dengan segara daya dan upaya merajut kebahagiaan dan keberhasilan di bulan Ramadhan. Setelah saudara mulai merasakan indahnya sholat berjamaah di masjid. Setelah saudara merasakan betapa damainya batin saudara yang jauh dari bisikan setan. Setelah saudara merasakan betapa bahagianya menikmati hidangan buka puasa. Dan setelah saudara mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali saudara uraikan satu demi satu? Akankah saudara dengan kedua tangan dan kaki saudara meruntuhkan tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal saudara? Hanya saudaralah yang mampu membuktikan berbagai pertanyaan di atas. Saudaraku! Walau demikian, ada satu indikasi yang dapat saudara jadikan pedoman dalam mengenali apakah sekarang ini saudara sedang memupuk subur pahala yang telah saudara kumpulkan atau sedang meruntuhkannya kembali. Anda penasaran ingin mengetahui apakah indikasi tersebut? Indikasi tersebut ialah amalan saudara sendiri. Pada suatu hari 'Aisyah radhiallahu 'anha bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tentang maksud ayat ini: "Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khomer, dan mencuri?" Menanggapi pertanyaan istri tercintanya ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak heran saudaraku bila dahulu para ulama' dan orang-orang sholeh senantiasa berjuang untuk beramal sholeh setiap waktu. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pada suatu saat nanti mereka pasti menghadap kepada Pencipta mereka yaitu Allah Yang Maha Keras Siksa-Nya. Mereka hanya memiliki satu batas waktu untuk berhenti dari perjuangan beramal sholeh: Karena perjalanan ibadah saudara demikian panjang, tidak heran bila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar mereka bersikap yang proporsional dalam beramal. Tidak telalu memaksakan diri dengan mengamalkan amalan yang terlalu berat baginya dan tidak lemah semangat sehingga malas beramal. Saudaraku! Bila pada bulan Ramadhan, anda telah mengenal ibadah puasa, sholat malam, sedekah kepada fakir-miskin, membaca Al Qur'an, dan ibadah lainnya, akankah semua itu tenggelam bersama tenggelamnya bulan Ramadhan? Tidakkah saudara merasa terpanggil untuk meneruskan amal ibadah itu walau hanya sedikit, sehingga hari-hari saudara senantiasa dihiasi dengan aliran pahala dan kedamaian karena berada dekat dengan Allah? Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Hanya dengan demikian kita dapat menjaga rangkaian pahala yang telah tersusun rapi pada lembaran amal kita dan tidak kembali meruntuhkannya satu demi satu. Wallahu a'alam bisshowab. *** Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. |





Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan selalu kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.




